Strategi mahasiswa dalam menghadapi kekerasan seksual bisa dibagi jadi pencegahan, respon saat kejadian, dan pemulihan setelahnya.
1. Strategi Pencegahan (Preventive)
Tujuannya mengurangi risiko dan meningkatkan kesadaran:
- Kenali batasan diri (consent)
- Pahami bahwa persetujuan harus jelas, sadar, dan bisa ditarik kapan saja.
- Bangun awareness lingkungan
- Waspada di situasi rawan (acara malam, tempat sepi, dll).
- Punya support system
- Selalu beri tahu teman kalau pergi ke tempat baru atau dengan orang yang belum terlalu dikenal.
- Edukasi diri
- Ikut seminar, webinar, atau kampanye kampus tentang kekerasan seksual.
- Gunakan sistem buddy
- Pergi atau pulang bersama teman, terutama di malam hari.
2. Strategi Saat Menghadapi Situasi (Immediate Response)
Kalau berada dalam situasi tidak aman:
- Percaya insting
- Kalau merasa tidak nyaman, itu valid—segera menjauh.
- Tegas berkata “tidak”
- Gunakan komunikasi yang jelas dan tegas.
- Cari bantuan segera
- Hubungi teman, security kampus, atau orang sekitar.
- Keluar dari situasi
- Prioritaskan keselamatan diri, bukan sopan santun.
3. Strategi Setelah Kejadian (Post-Incident)
Kalau sudah terjadi:
- Cari tempat aman
- Segera menjauh dari pelaku.
- Cerita ke orang terpercaya
- Teman dekat, keluarga, atau konselor.
- Laporkan kejadian
- Bisa ke pihak kampus (satgas) atau lembaga resmi.
- Simpan bukti (jika memungkinkan)
- Jangan langsung membersihkan diri jika ingin melakukan visum.
- Akses bantuan profesional
- Psikolog, konselor, atau layanan pendamping korban.
4. Dukungan Sistem Kampus (Institutional Strategy)
Mahasiswa juga bisa:
- Mendorong kampus punya Satgas Anti Kekerasan Seksual
- Ikut organisasi atau komunitas advokasi
- Mengkampanyekan budaya zero tolerance terhadap kekerasan seksual
5. Pemulihan & Self-Healing
- Validasi perasaan (tidak menyalahkan diri sendiri)
- Ikut terapi atau support group
- Fokus pada pemulihan fisik & mental secara bertahap